youngkimbaeson

Love and Leashes (part 37)

Seungwan melihat Joohyun berjalan ke arah mobilnya dengan menenteng tas hitam miliknya serta satu tas lagi yang Seungwan yakini berisikan kamera dan peralatan lainnya yang mereka butuhkan untuk interview nanti.

Dengan sigap Seungwan turun dari mobilnya dan mendatangi Joohyun yang terlihat sedikit kesusahan membawa dua tas tersebut.

“Sini tasnya gue yang bawa.” ujar Seungwan yang langsung mengambil tas berisikan peralatan untuk interview.

“Gak usah, gue bisa.”

“Tck, ngeyel banget ya. Semua juga liat kalo lo keberatan bawa tas ini.”

Tanpa menunggu jawaban Joohyun, Seungwan memikul tas tersebut di pundak kirinya dan berjalan menuju mobil miliknya.

“Bisa nyetir?” tanya Seungwan pada Joohyun yang sedikit berlari untuk menyusul bawahannya itu.

“Bisa, kenapa?”

“Gue tau kalo kayak gini harusnya yang nyetir tuh junior bukan senior. Tapi gue sama sekali gak prepare apapun buat interview nanti. Bahkan gue aja nggak tau siapa yang mau di interview. Jadi gue mau baca hasil riset tim selama di jalan dan of course gue gak bakal bisa baca sambil nyetir.”

“Gue brief aja di jalan.”

Seungwan yang telah selesai memasukkan barang di bagasi kemudian berkecak pinggang.

“Mbak, gini ya. Sorry banget tapi prinsip gue adalah gue harus baca source hasil riset itu dengan mata gue sendiri. No offense, bukan gue gak percaya sama lo, tapi who knows kita punya cara pandang atau ide yang beda nanti. Kalo setelah gue baca dan lo masih mau brief gue, it's okay.”

Joohyun mengernyitkan keningnya dan Seungwan dapat melihat bahwa senior di hadapannya ini tengah meremas ujung blazer yang ia kenakan.

Sang junior sudah bersiap apabila Joohyun akan memarahinya namun tak lama setelahnya Joohyun justru hanya menutup matanya dan menghela napas panjang.

“Okay.”

Joohyun mengambil satu map yang tersimpan di dalam tas peralatan kemudian menyerahkannya kepada Seungwan.

“Mana kuncinya?”

Seungwan merogoh saku jaket yang ia kenakan, lalu menukar map dengan kunci mobil.

Tepat disaat mereka bertukar kunci dan map, Seungwan secara tidak sengaja melihat bekas berwarna ungu yang mulai memudar di pergelangan tangan Joohyun.

“Wait, lo luka?”

Menyadari bahwa Seungwan melihat sesuatu yang tidak semestinya, Joohyun buru-buru menarik tangannya dan menggeleng. Lalu berjalan ke arah kursi pengemudi, meninggalkan Seungwan yang masih berdiri di belakang mobil.

Seungwan hanya mengendikkan bahunya. Ia tahu ia tidak akan bertanya lebih lanjut. Lagi pula maksudnya tadi menanyakan kondisi tangan Joohyun hanya karena ia khawatir dan otomatis ia tidak akan membiarkan Joohyun untuk mengangkat barang-barang yang cukup berat.

Sepanjang perjalanan hanya diisi bunyi sayup dari suara radio mobil. Seungwan terlalu fokus membaca materi sedangkan Joohyun enggan untuk membuka suara setelah peristiwa di basement tadi.

“Oh? Ini bukannya Idol yang beberapa bulan lalu…”

“Iya.”

“Wow, dia mau kita liput?”

“Dia minta untuk diliput.”

Ucapan Joohyun membuat Seungwan menolehkan kepalanya.

“Wait, dia kemarin kan sempat heboh karena tiba-tiba announce menikah terus nggak lama ternyata pasangannya melahirkan. Terus bukannya dia sampe filing law suit ke orang-orang yang nge-cyber bully keluarga dia? Bukannya kalau gini justru dia akan semakin dibenci?”

“He just wants justice maybe? After all cinta itu nggak pernah salah, mungkin cuma waktu, tempat, atau orangnya aja yang kurang tepat.”

Seungwan mengangguk singkat, “Well atau dia kurang beruntung karena kebahagiaan dia dilihat sebagai aib sama orang lain. We have our preference and our background story that no one else knows.”

Untuk pertama kalinya sejak Joohyun mengenal Seungwan, ia merasakan bahwa Seungwan mungkin satu tingkat lebih baik dari orang-orang asing yang selama ini ia kenal.


Joohyun dan Seungwan membungkukan badan mereka untuk memberikan salam perpisahan sebelum keduanya memasuki pintu lift.

Tepat pada saat pintu lift tertutup, baik Seungwan maupun Joohyun sama-sama menghela napas mereka lega.

Akhirnya interview hari itu selesai setelah hampir lebih dari tiga jam mereka berbincang-bintang dengan sang idol.

Seungwan menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, ini adalah kali pertama baginya meliput seorang idol papan atas dan rupanya cukup melelahkan pula baginya. Apalagi dengan adanya segudang don'ts yang diberikan oleh pihak manajemen.

Sang junior menarik napasnya panjang.

“Good job.”

“Huh”

“Iya tadi, good job. Kamu berhasil ngambil hatinya narasumber.”

Seungwan yang tidak biasa mendapatkan pujian dari senior di departemen sebelumnya, mau tidak mau menjadi sedikit malu. Ia sedikit kikuk dengan pujian yang Joohyun lontarkan.

“Oh… hmm… yeah… thanks juga.”

“Seungwan, abis ini drop gue di apartemen gue bisa?”

“Sure.”

Suara dentingan terdengar dan tak lama setelahnya pintu lift terbuka. Seungwan berjalan keluar lift diikuti oleh Joohyun. Melalui ekor matanya, Seungwan dapat melihat beberapa kali Joohyun memijat pelipisnya.

“Sakit?” tanya Seungwan sembari berjalan menuju bagian front desk untuk mengembalikan kartu akses gedung.

Joohyun menggeleng pelan, “Cuma gak enak badan. Kemaren kayaknya kebanyakan minumnya.”

“tck…itu bukan kayaknya. Lo kemaren emang minum banyak.”

Tangan Seungwan tiba-tiba refleks menarik Joohyun saat ia melihat seorang laki-laki berjalan mundur dan memutar tubuhnya tanpa melihat keadaan sekitar.

“Hati-hati.” ujar Seungwan dengan datar sembari melihat ke arah Pria tersebut dengan kesal.

Sebuah anggukan canggung diberikan oleh Joohyun. Ia kemudian mengekor di belakang Seungwan yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

Perjalanan ke apartemen Joohyun pun diisi dengan keheningan hingga mereka tiba di lobby gedung.

“Hasil tadi gue tulis dulu ya. Sore nanti gue report. Lo istirahat dulu aja deh Mbak. Keliatan pucet.” ujar Seungwan setelah ia menghentikan mobilnya.

Joohyun mengangguk, “Thanks.”

Sang kepala departemen kemudian turun dari mobil dan melangkah memasuki gedung apartemen tersebut.

Setelah memastikan bahwa Joohyun sudah hilang dari pandangannya, Seungwan menurunkan tuas rem dan siap melajukan mobilnya namun tiba-tiba ia melihat tas milik Joohyun yang tergeletak di kursi penumpang belakang.

Seungwan menghela napasnya, “Haduh pake lupa dia bawa lagi. Gue biarin atau gue samperin ya?”

Akhirnya ia memilih untuk memarkirkan mobilnya dan mengembalikan tas milik Joohyun.

Sesampainya di dalam gedung tersebut, Seungwan hendak berjalan menuju front desk untuk menanyakan unit apartemen milik Joohyun namun secara tidak sengaja ia melihat sosok Joohyun yang sedang menunduk dan berjalan mengekor di belakang seseorang yang ia tidak kenali.

Seungwan yang tidak ingin berlama-lama berada disana, memilih untuk segera berlari mengejar Joohyun.

Namun apa yang ia temukan saat tiba di taman kompleks apartemen tersebut cukup membuatnya tercengang.

Joohyun terlihat cukup terintimidasi di depan sosok wanita dengan postur yang sedikit lebih tinggi daripada dirinya. Percakapan mereka terlihat intens namun Seungwan dapat melihat bahwa kepala departemennya itu tidak nyaman dengan kehadiran orang tersebut.

Seungwan terdiam di tempatnya berdiri. Ia bingung apakah harus mencampuri urusan Joohyun, yang notabenenya tidak begitu ia kenali, atau memilih untuk meninggalkan tempat ini saat itu juga.

Apa yang terjadi selanjutnya justru membuat Seungwan akhirnya memutuskan untuk mencampuri urusan Joohyun. Ia melihat bagaimana Joohyun yang sudah hendak pergi meninggalkan orang tersebut, ditarik secara paksa hingga Joohyun meringis kesakitan.

“Hey! Hey!” teriak Seungwan.

Joohyun yang melihat sosok juniornya berjalan ke arahnya tiba-tiba merasa panik. Tidak ada satu pun orang kantor yang boleh mengetahui rahasianya.

“Seulgi lepasin.” desis Joohyun.

“Nope. Kamu itu masih punyaku Joohyun.” balas Seulgi.

“Hey! Lepasin!” ujar Seungwan yang langsung melepaskan cengkraman tangan Seulgi.

Secara refleks Seungwan memposisikan dirinya di depan Joohyun, menghalangi Seulgi untuk mendekati Joohyun.

“Minggir, nggak usah ikut campur.” ujar Seulgi.

“Nggak. Lo yang minggir, pergi jauh-jauh.”

Seulgi mengernyitkan keningnya saat melihat Seungwan yang melindungi Joohyun dan bagaimana Joohyun memegang ujung jaket yang dikenakan oleh Seungwan.

Sementara itu, Seungwan baru menyadari bahwa sosok dihadapannya ini cukup menakutkan. Namun ia sudah kepalang tanggung berlagak seperti pahlawan, ia tidak boleh mundur sekarang.

“Oh, jadi dia Master baru kamu yang bikin kamu mencampakkan aku?”

Ucapan Seulgi sontak membuat Seungwan bingung dan membuat Joohyun semakin panik. Secara refleks Joohyun mendangakkan kepalanya namun ia langsung kembali menunduk saat melihat tatapan kemarahan di mata Seulgi.

“Apasih gak jelas, lo pergi deh sana. Gak usah membuat keributan di tempat umum.” ujar Seungwan.

“Lo siapanya Joohyun?” desis Seulgi.

“Lo nggak perlu tau dan gue juga nggak mau ngasih tau.”

Seulgi tertawa mengejek. “Hyun, no one knows you better than I. Kita lihat berapa lama master baru kamu bertahan sama kamu.”

“Seulgi stop!” desis Joohyun yang kali ini angkat suara.

Lagi-lagi Seungwan terheran saat mendengar kata-kata “master” dan kali ini raut wajah tersebut tertangkap oleh Seulgi.

“Oh, look at this? Jadi dia bukan master kamu?” kali ini Seulgi sengaja menyebutkan kata-kata master untuk melihat reaksi Seungwan dan tepat seperti dugaannya, Seungwan kembali mengernyitkan keningnya.

Tak lama setelahnya terdengar tawa kencang dari mulut Seulgi.

“Oh my God Joohyun, pacar kamu nggak tau tentang preference unik kamu?” tawa Seulgi.

“Good luck, kabarin ya kalo udah bosen sama your vanilla relationship.” sambung Seulgi sembari menepuk pundak Seungwan.

Setelahnya Seulgi berjalan meninggalkan Seungwan dan Joohyun, seakan-akan tidak terjadi apapun.

Setelah memastikan bahwa sosok orang asing tersebut sudah pergi, Seungwan memutar tubuhnya menghadap Joohyun. Ia berusaha memastikan bahwa seniornya itu baik-baik saja.

“Lo nggak apa-apa?”

“Ngapain kamu balik sini?!” bentak Joohyun.

“Lah, kok jadi galak dia?” ujar Seungwan pada dirinya sendiri.

“Ngapain kamu ngikutin aku?! K-kamu…” Joohyun menutup matanya kemudian tiba-tiba berjongkok dan menangis tersedu-sedu.

“L-lah?”

Seungwan yang panik melihat Joohyun menangis akhirnya ikut berjongkok sembari menepuk-nepuk pelan pundak Joohyun. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa.

“M-Mbak jangan nangis gini dong. Diliatin orang.” bisik Seungwan.

Joohyun mendangakkan kepalanya menatap Seungwan dengan lekat membuat Seungwan menjadi salah tingkah.

“A-aku emang aneh, tapi please Seungwan jangan kasih tau siapapun tentang ini. A-aku udah nyaman kerja di kantor kita. A-aku nyaman banget sama tim S&E. Jangan buat aku harus cari pekerjaan baru lagi…”

Seungwan terkejut dengan ucapan Joohyun.

Joohyun aneh?

Cari pekerjaan baru lagi?

Namun satu hal yang Seungwan tahu, ia tidak ada niatan untuk membocorkan peristiwa barusan pada siapapun walaupun ia setengah mati penasaran dengan ucapan orang aneh yang dipanggil 'Seulgi' oleh Joohyun.

Sosok Joohyun dihadapannya kini sangat berbeda dengan Joohyun yang biasa ia temui di kantor. Hal ini membuat hati Seungwan tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Terlebih saat Joohyun memohon kepadanya dengan tatapan tersebut.

Entah apa yang ada dalam benak Seungwan, namun perlahan tangannya berpindah dari pundak menuju puncak kepala Joohyun dan mengelus kepala seniornya tersebut secara perlahan.

Joohyun pun yang mendapat perlakuan tersebut hanya bisa terdiam kaku. Ia tidak pernah mengizinkan orang 'asing' untuk melakukan kontak fisik dengannya, apalagi mengelus puncak kepalanya seperti ini. Namun tubuhnya bagaikan tersihir oleh tatapan teduh yang diberikan oleh Seungwan.

“Tenang aja, gue bukan orang yang suka ikut campur kok. Tadi gue kesini bukan mau ngikutin atau nguntit lo. Gue cuma mau balikin tas lo yang ketuker sama tas gue dan secara gak sengaja lihat lo tadi sama orang aneh itu. Gue liat lo nggak nyaman, makanya gue samperin. Buat kejadian tadi, percaya sama gue, gak ada orang yang bakal tau. Cuma pesan gue satu, lo mending jauh-jauh dari orang kayak gitu deh Mbak. Bahaya banget kalo tadi gue gak ada.”

Hari itu sosok Seungwan di mata Joohyun telah berubah drastis. Bohong jika Joohyun berkata bahwa ia tidak mengenal Seungwan. Justru Joohyun sangat mengenal Seungwan dan mengingat kejadian-kejadian di masa internship yang dilakoni oleh Seungwan.

Sosok Seungwan yang dahulu di mata Joohyun adalah sosok yang berisik, clumsy, dan konyol telah berevolusi menjadi sosok yang dewasa dan bisa diandalkan.

LOVE IS...

(part 3-2)

Sepasang ibu dan anak yang menghuni ruang kerja tersebut kini tengah terfokus menonton video yang menayangkan prosedur operasi.

Winata sendiri sebenarnya tidak menonton video tersebut dari awal karena ia memasuki ruang kerja Thena sekitar dua puluh menit yang lalu.

Ekspresi wajah Thena terlihat sangat datar, sementara itu ekspresi Winata berbanding terbalik. Ia sempat beberapa kali mendesis khawatir saat melihat pendarahan yang terjadi.

“Sumpah sih clumsy banget.” ujar Winata.

“Huh?”

“Itu murid bubu, clumsy banget. Aku bisa liat tangan dia geter.”

“Oh…kok kamu tau? Apa indikatornya?”

“Beda banget. Aku udah sering liat video bubu. Paling basic itu alat laparoskop dari tadi agak goyang nggak terkendali gitu.”

Thena mengangguk.

“Ini pertama kali dia coba teknik laparoskopi.”

“Ah I see.”

“Ngapain kamu ikut nonton disini?” tanya Thena yang masih berfokus pada layar televisi.

“Males ah nemenin Mami di halaman belakang.”

“Mami kamu ngapain?”

“Baca buku. Ntar aku disuruh ikutan baca terus jadi sharing session sama Mami.”

Thena tertawa pelan.

Are you sure bukan karena kamu masih ngambek sama Tiffany? Nggak baik loh marah sama Ibu sendiri padahal besok mau turnamen.” ujar Thena yang menatap Winata sekilas sebelum kembali menatap layar televisi.

“Dih apaan?”

“Inget, restu di kaki Ibu.” goda Thena lagi.

“Ya Bubu juga Ibuku.”

“Ya ibumu dua.”

Winata memutar bola matanya. “Biarin deh besok aja minta restunya.”

“Tuh kan ngambek. Besok Bubu nggak bisa loh nonton kamu, jadi yang nonton cuma Tiffany. Gih minta restu, keburu expired ntar.”

“Lah bubu kemana?”

“Operasi.”

“Oh, makanya nonton video ini?”

Thena mengangguk, “Bubu masih mempertimbangkan buat ngajak ini anak, tapi agak deg-degan juga ya kalau dia masih kayak gini skillsnya.”

“Ajak aja, kesempatan kayak gini kan yang selalu ditunggu mereka? Bubu juga ada disana, jadi kalau ada apa-apa kan bisa di take-over Bubu.”

“Well, bener juga sih. Tapi Operasi besok itu operasi besar dan lama, Bubu butuh orang yang bisa bantu Bubu bukan yang bakal memberatkan bubu.”

“Bisa dia pasti bisa. Coba aja bubu telpon dia malam ini dan jelasin kasusnya, suruh dia belajar sekarang juga. Masih ada waktu kan?”

Thena mengangguk, “Well, akan bubu pertimbangin. Kok kita jadi ngomongin kerjaan bubu ya? Kamu tuh, coba ngambeknya udahan.”

“Kenapa juga aku ngambek?”

“Gara-gara Mami kamu nggak mau kasih lihat tugasnya Karina.”

Sudah hampir seminggu lebih semenjak batas akhir pengumpulan tugas literatur berlalu dan Winata masih belum mengetahui jawaban Karina atas tugas mereka. Hal ini membuat Winata melakukan protes besar-besaran karena menurutnya tindakan Karina tersebut adalah sebuah pengkhianatan.

Pasalnya menurut Winata, ia sudah memberitahukan isi tugasnya pada Karina. Bahkan ia menunjukkan secara rinci hasil miliknya.

Sementara itu dari sisi Karina, menurutnya ia tidak pernah meminta Winata untuk menunjukkan tugasnya sampai seperti itu dan merupakan haknya pula apabila ia tidak mau menunjukkan hasil kerjanya.

Karina tahu, Winata bukan ingin mencontek tugasnya. Sahabatnya itu hanya penasaran atas definisinya tentang Cinta. Namun Karina belum mau memberitahukan jawabannya pada Winata. Untuk itu, Karina sampai rela mendatangi Tiffany dan meminta Ibu dari Winata itu untuk merahasiakan jawaban miliknya karena Karina tahu Winata akan melakukan tindakan curang untuk melihat definisi miliknya.

Dugaan itu tidak salah.

Tepat tiga hari setelah Winata gagal mendapatkan jawaban dari Karina, di suatu malam hari ia mendatangi Tiffany dan Thena yang tengah menghabiskan quality time mereka dengan menonton film di ruang keluarga rumah mereka.

Tiffany yang sudah berjanji pada Karina, memutuskan untuk tidak meladeni aksi curang putrinya itu dan alhasil sampai sekarang Winata masih melakukan aksi mogok pada Maminya.

“Nggak ya, aku nggak ngambek.” dengus Winata.

Thena lagi-lagi tertawa. Melihat sikap Winata yang seperti ini seperti melihat dirinya sendiri.

“Ngapain bohong sih, kayak Bubu nggak kenal kamu aja? Lagian apa sih yang kamu minta dari Mami kamu?”

“Emang Mami nggak cerita?”

Thena menggeleng, “Mami cuma bilang dia udah janji sama Karina buat nggak bocorin apapun ke kamu. Udah gitu aja.”

Winata mendengus kesal. Lagi-lagi rencananya gagal.

Padahal niatnya selama beberapa hari ini selalu mengekori Thena adalah untuk mendapatkan bocoran, barangkali Maminya bercerita sesuatu kepada Bubunya.

“Aku ada tugas literatur.”

“Oh? Terus?”

“Awalnya disuruh nonton film gitu, terus dapet tugas paper intinya suruh definisiin apa itu cinta. Aku sama Karina awalnya udah janjian mau nunjukin tugas kita, tapi terus dia nggak nunjukin ke aku hasil akhirnya.”

“Oalah terus kamu mau cara curang gitu? Untung Karina pinter.” ledek Thena disambung dengan tawa.

“Oh, ya. Kamu jadinya daftar pertukaran pelajar itu nggak?” lanjut Thena.

Winata mengangkat bahunya.

“Win, Bubu bohong kalau bubu bilang bubu nggak pengen lihat kamu jadi dokter juga. Tapi dua puluh menit terakhir ini bikin bubu yakin kalau kamu nggak cocok jadi dokter.” tawa Thena lagi.

“Kok gitu?”

“Dua puluh menit terakhir, berapa kali kamu nahan napas? Berapa kali kamu gelisah cuma karena murid bubu sempet melakukan kesalahan-kesalahan kecil? Kamu pintar, itu bubu akui. Otak kamu sanggup buat jadi dokter. Tapi, hati kamu nggak sanggup.”

Winata terdiam.

“Win, Bubu dan Mami kamu sangat berterima kasih selama ini kamu tumbuh sebagai anak yang baik dan selalu berusaha membanggakan kami. Sekarang saatnya kamu untuk membahagiakan diri kamu sendiri, okay? Perlahan kamu nggak akan terus tinggal sama Bubu dan Mami, bukan kami usir ya. Tapi suatu saat nanti kamu pun akan tinggal sama keluarga kamu. Akan ada saat dimana kebahagiaan atau kepentingan Bubu dan Mami bukan menjadi prioritas kamu lagi dan mungkin sekarang adalah saat itu semua bermula.”

Thena mematikan video yang sedari tadi ia tonton kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Winata. Ia tersenyum kemudian mengusap kepala Winata.

“Jawaban Bubu ini pasti telat banget, karena tugas kamu udah dikumpul. Tapi menurut bubu, Cinta itu adalah saat dimana kamu mau mengerti keadaan dan menghormati keputusan yang diambil oleh orang yang kamu kasihi. That’s how I love you, Winata and I learnt it from your mom.”

Winata dan Thena sama-sama tertawa untuk menutupi kenyataan bahwa keduanya sama-sama hampir menangis.

“Ew, nggak cocok banget ya Bubu ngomong gini.” tawa Thena.

“Tapi kata Mami, Bubu tuh jago banget kayak gini.”

“Oh ya jelas kalau itu.”

“Iya sih, siapa ya yang dulu pas aku masih SD bikin aku nangis gara-gara bilang lebih milih istrinya daripada anaknya sendiri.” cibir Winata.

Thena tertawa kencang.

Ia ingat betul peristiwa yang dimaksud oleh Winata. Waktu itu Tiffany mengajak Thena dan Winata untuk menonton suatu film di bioskop. Di akhir film tersebut tokoh utama kartun meninggal karena menyelamatkan anaknya.

Adegan ini membuat Winata menanyakan suatu pertanyaan kepada Thena.

“Kalau aku dan Mami tenggelam, Bubu milih nyelamatin siapa?”

Jawaban Thena sangat tidak terduga dan membuat dirinya dimarahi oleh Tiffany habis-habisan selama satu bulan penuh.

”Bubu jelas milih Mami lah! Dari awal Bubu nikah sama Mami ya karena Bubu memilih Mami untuk ada sama Bubu sampai Bubu mati nanti. Winata, kita nggak pernah bisa milih untuk punya orang tua yang seperti apa dan kita juga nggak bisa milih akan punya anak yang seperti apa. Tapi, kita bisa memilih siapa orang yang akan menemani kita sampai akhir hayat nanti.”

“Tapi kata-kata Bubu ada benernya sih.” ujar Winata tiba-tiba.

“Oh, kamu masih inget?”

Winata mengangguk. “Ya, kayak sekarang contohnya. Mana bisa aku milih punya orang tua yang lebih waras? Dapetnya malah kayak Bubu.”

“Heh, sialan!”


Decitan sepatu yang bergesekan dengan lantai kayu beradu dengan teriakan yel-yel suporter tim basket pada sore hari itu menjadi beberapa dari sekian banyak suara yang memenuhi indera pendengaran Karina.

Sore hari ini tim basket putri SMA Pelita akan berhadapan dengan tim basket putri SMA Kusuma. Kedua tim yang beberapa tahun ke belakang merupakan rival sengit, pada tahun ini harus saling bertemu di laga semifinal.

Tentu saja hal ini membuat seluruh tribun penonton pada sore hari itu menjadi padat pengunjung.

Seperti pada pertandingan-pertandingan terdahulu, Karina sudah duduk di bangku penonton sejak satu pertandingan sebelum waktu pertandingan yang akan dilakoni oleh sekolahnya.

Dan seperti yang sudah-sudah, Karina selalu memisahkan dirinya dari kawanan anak sekolahnya. Ia lebih memilih untuk membaur di tribun penonton umum daripada harus bersama-sama dengan teman-temannya.

Tepuk tangan meriah ia berikan pada saat pembawa acara meneriakkan nama sekolahnya serta nama sekolah lawan yang kemudian diikuti dengan satu per satu pemain keluar dari sudut kanan dan kiri stadium basket tersebut.

Hari ini tim basket sekolahnya menggunakan seragam berwarna merah dan dipimpin oleh Prima berlari memasuki lapangan pertandingan. Sontak hal ini membuat Karina mengernyitkan dahinya.

Kemana Winata?

Namun rasa penasarannya terbayar sudah saat melihat Winata berjalan memasuki lapangan di barisan terakhir bersama dengan manajer tim yang mendorong sebuah box container.

“Ah! Itu dia pemain yang gue tungguin!!!” pekik salah seorang penonton yang duduk beberapa kursi di samping Karina.

“Yang mana sih?”

“Itu loh, tim Pelita. Yang seragam merah. Nomor sebelas! Winata!”

Mendengar nama Winata disebut oleh orang asing, Karina dengan cepat melirik orang tersebut dan melakukan skrining singkat.

Yep, fans Winata.

“Udahan kali natap anak orang kayak gitu.”

Karina terperanjat saat ia mendengar suara Ningtyas tepat di telinganya.

“Ngagetin aja sih!”

“Ya abis salah siapa gue chat tapi nggak bales?” jawab Ningtyas santai dan langsung duduk di bangku yang tadinya sudah di-reserved oleh Karina dengan menaruh barang bawaannya disana.

Karina meringis, “Sorry gak kedengeran juga suara notifnya.”

Karina kemudian mengeluarkan kamera dari tasnya dan mengambil foto-foto Winata dan teman timnya. Di setiap foto yang ia ambil, Karina melihat dengan jelas sorot kebahagiaan di wajah Winata.

“Win, you’re the happiest when you’re here with your team doing basketball.” bisik Karina.

Tekatnya sudah bulat, mau atau tidak mau, ia akan memaksa Winata untuk mengikuti pertukaran pelajar tersebut. Bahkan jika perlu, ia akan memalsukan tanda tangan Winata dan mendaftarkan sahabatnya itu tanpa sepengetahuan Winata.

“Oh my god! Gila skillsnya Winata nih makin lama makin mateng aja! Gue ngikutin dari dia masih di SMP cuy!”

Bisik-bisik dari fans Winata kembali terdengar.

”Gue ngikutin Winata dari TK” batin Karina.

“Setuju sih, tahun lalu dia nggak dapet MVP karena emang dia mainnya belum se-clean sekarang dan masih ada si Anggia. Tapi tahun ini kan Anggia udah nggak main, pasti Winata sih MVP-nya.”

Karina mengangguk setuju. Tahun lalu Winata sempat terkena satu kali foul-out di laga semifinal yang membuat dirinya tidak bisa bermain di kuarter terakhir dan Anggia yang disebut-sebut oleh fans Winata itu pun memang memiliki kemampuan jauh lebih matang dibandingkan oleh Winata pada saat itu.

Ningtyas menyenggol lengan Karina pelan.

“Apaan?”

“Winata nyariin lo deh kayaknya.” tunjuk Ningtyas.

Hal seperti ini memang selalu terjadi karena Karina yang tidak mau duduk bersama dengan suporter sekolahnya dan Winata sendiri sudah sering protes pada Karina. Menurut Winata akan jauh lebih mudah baginya untuk menemukan Karina jika ia duduk di kerumunan anak sekolahnya daripada berbaur dengan penonton umum.

Namun Karina punya alasannya sendiri.

Ia tidak mau fokusnya terpecah antara menonton pertandingan Winata dengan tugasnya sebagai suporter.

“Mereka udah lari keliling belom sih? Gue nggak merhatiin.” tanya Karina.

“Belom, tadi baru stretching singkat. Ntar lo teriak aja kayak biasa.”

Tepat seperti biasanya, Winata berlari di luar lapangan menyusuri tiap sudut lapangan tersebut sambil sesekali mencari keberadaan Karina. Teman satu tim-nya pun tahu itu adalah ritual wajib yang dilakukan oleh Winata sembari mereka melakukan passing-passing dan shooting pemanasan.

“Wait wait tuh Winata lari muter kayak biasa! Aduh seneng deh bisa liat dari deket.”

Ningtyas menahan tawanya saat ikut mendengar gosip-gosip tetangga dan melihat reaksi Karina.

“Nggak usah jealous” bisik Ningtyas pada Karina.

“Gak ada yang jealous

“Iya, rin ngomong tuh sama tembok.” timpal Giselle yang baru saja tiba beberapa saat lalu.

“Lo berdua nih kalo dateng bisa bersuara dikit nggak sih? Kaget banget gue anjir?”

“Woy ini stadion berisik banget ya gila! Bukan salah kita kalo lo selalu budeg karena udah selective hearing duluan. Fokus lo tuh cuma Winata, Winata, dan Winata.” balas Giselle.

Ningtyas kembali tertawa. Namun kali ini matanya memperhatikan Winata yang berlari semakin mendekati tribun yang ditempati oleh Karina, Ningtyas, dan Giselle.

“Winto!!!”

Teriakan Ningtyas sontak membuat Winata menoleh.

Hanya teman-teman terdekatnya yang suka memanggilnya dengan nama tersebut, nama yang seringkali disebutkan oleh Bu Sulis, guru matematika mereka yang selalu kesulitan mengucap nama ‘Winata’ sehingga seringkali berubah menjadi ‘Winto’.

Winata terlihat menoleh kesana kemari, berusaha mencari sumber suara.

“Winata!!” kali ini fans yang duduk dekat Karina kembali berteriak.

“Winto!! Karina disini Win!!” teriak Giselle yang tak mau kalah.

Senyuman Winata terlihat semakin lebar saat ia menemukan ketiga sahabatnya duduk di bangku penonton umum.

“Kok disini sih!”

“Karina tuh!” teriak Giselle.

“Karina!! Hehe kirain gamau dateng.” teriak Winata.

“Emangnya aku kayak kamu? Tukang ngambek!”

Winata menjulurkan lidahnya.

“Rin, kalo nanti aku berhasil three points dari tengah lapangan, kamu harus kasih tau aku isi tugasmu!”

“Menangin tuh pertandingan, baru aku kasih tau!” balas Karina

Winata mengacungkan jempolnya. Kemudian ia kembali berlari memutari lapangan, meninggalkan tribun penonton umum yang ditempati Karina.

Misi pertamanya hari ini sudah terlaksana.

Sepeninggalan Winata, gerombolan fans Winata kembali berbisik-bisik.

“Ih tu cewek kenal Winata?”

“Njir lo nggak tau?”

“Hah?”

“Itu Karina. Gatau deh dia apa hubungannya sama Winata tapi mereka deket banget.”

“Karina?? The Karina yang pernah disebut sama Winata pas dia dapet titel raising new comer tahun lalu?”

“Iya anjir. Wah, baru pertama gue ketemu orangnya langsung gini.”

Giselle dan Ningtyas saling menyikut Karina.

“Cie, terkenal cie.” goda Giselle.

“Uhhh, the Karina cieee.” timpal Ningtyas.

“Apaan sih basi lo berdua.”

“Halah, gitu juga lo seneng kan?”

Ningtyas dan Giselle tertawa kencang saat melihat telinga Karina berubah menjadi sangat merah.

Sementara itu Karina berusaha untuk menenangkan dirinya dan kembali mengambil gambar Winata.


“Winata!!”

Pertandingan hari itu selesai dengan kekalahan tim SMA Pelita. Dua pemain penting mereka mengalami cedera di pertandingan tadi dan alhasil tim mereka tidak bisa bermain secara maksimal.

Mengetahui seberapa penting pertandingan hari itu, Karina sedikit khawatir dengan keadaan Winata dan teman-teman timnya.

Kecewa? Sudah pasti.

Tetapi Karina lebih khawatir pada kondisi fisik Prima dan Adel yang tadi sampai tidak bisa mengikuti sisa pertandingan. Ia pun cukup khawatir tentang perasaan Winata. Ia tahu betul betapa Winata berharap ia bisa menjadi juara tahun ini.

Seusai pertandingan, Karina segera berlari keluar dari stadion dan memutar ke arah pintu masuk pemain. Sesampainya disana, ia telah melihat kerumunan tim basket sekolahnya dan melihat Winata terduduk di dekat Prima.

Tanpa menunggu lagi, Karina langsung berlari menuju Winata dan Prima serta memeluk Winata dengan erat.

“Gila tadi three point dari tengah lapangan keren banget!!!” ucap Karina dengan bangga, berusaha menghibur hati Winata.

“Dih Rin, mau aja sih meluk orang bau keringet.” goda Prima dengan kakinya yang dibalut perban.

Prima kemudian memberikan gestur pada Karina bahwa Winata sedang tidak baik-baik saja yang dibalas dengan anggukan pelan dari Karina.

“Win…” panggil Karina

“Anterin aku pulang nanti.” bisik Winata.

“Iya, aku anter.”

Sang pelatih kemudian memanggil seluruh anak didiknya dan memberikan kalimat-kalimat penyemangat serta sedikit evaluasi. Ia pun mengingatkan bahwa masih ada pertandingan perebutan juara 3 yang harus mereka lakoni tiga hari dari sekarang.

Sang pelatih juga memberikan motivasi dan berusaha untuk membakar semangat tim tersebut yang tentu saja dibalas dengan teriakan teriakan frustasi dan kemarahan dari tim mereka. Beberapa sudah terlihat bangkit dari kekalahan hari ini, namun tidak dengan Winata.

Kapten tim terlihat lebih diam dari biasanya. Namun ia tetap melakukan tugasnya, memberikan semangat dan mengatur timnya. Ia kemudian menawarkan untuk mengadakan latihan tambahan esok dan lusa untuk mempersiapkan tim mereka yang tentu saja disetujui oleh seisi tim.

Di perjalanan pulang, Winata masih terdiam. Hal ini membuat Karina khawatir, baru kali ini ia melihat Winata sangat terpukul atas kekalahannya.

Bahkan sesampainya mereka di rumah Winata, sang kapten masih terdiam.

“Makasih udah anterin aku ya, Rin.” senyum Winata singkat.

“Win?”

Winata tidak membalas panggilan tersebut secara verbal. Namun Karina tahu kalau Winata tengah mendengarkannya.

Karina mengubah posisi gigi mobilnya dari netral menjadi mode parkir. Ia kemudian menarik tuas rem tangan mobilnya.

“Jangan turun dulu.” ujar Karina cepat.

Ia kemudian mengambil tas kamera yang ia taruh di kursi belakang. Kemudian mencari-cari foto yang ingin ia tunjukkan pada Winata.

“Aku mau ngasih tunjuk ini ke kamu.” ujar Karina sembari menyodorkan kamera miliknya.

“Kamu paling bahagia waktu di lapangan dan aku harap, kamu bisa lihat sendiri betapa bersinarnya kamu di saat kamu bahagia. Kekalahan hari ini bukan akhir dari semuanya Win. Masih ada porseni kan? Aku sendiri nggak tau kenapa kamu sampai sesedih ini, biasanya kamu sedih kalau kalah tapi nggak kayak gini.” lanjut Karina.

Winata mengeraskan rahangnya. Menahan tangis yang sedari tadi sudah berada di pucuk matanya.

“A-aku….” Winata menghela napas panjang.

“Cerita Win, kalau itu bisa bikin kamu lega.”

“Aku ngerasa gagal. Tiga tahun berturut-turut tim kita selalu masuk final dan di tahun aku jadi Kapten, tim kita gagal masuk final. Orang-orang banyak yang berharap sama tim ini, mereka bilang tim tahun ini itu dream team sekolah kita. Tapi…”

“Tapi siapa yang sangka kalau Prima dan Adel cedera? Kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sendiri Win.”

“Harusnya aku bisa Rin. Harusnya aku bisa.”

“Win, kamu sendiri yang bilang ke aku kalau Basket itu permainan tim bukan individu.”

Karina memilih untuk memeluk Winata sekali lagi.

“Aku masih dengan pendirianku. Kamu paling bahagia, paling bersinar pas kamu di lapangan.”

“I know…. I feel it too….”

“See?”

Karina melepaskan pelukan mereka kemudian mencubit pipi Winata.

“Udahan sedihnya, besok kamu latihan yang serius. Balas kekalahan kamu dengan dapetin itu gelar MVP. Aku yakin tahun ini kamu bisa dapet.”

Winata tertawa, “Itu sih kamu bias.”

“Sampe kamu dapet gelar itu, janji ke aku kamu daftar pertukaran pelajar ke Amerika itu.”

“Kalo aku nggak dapet?”

“Aku bakal berhenti maksa kamu buat daftar. Tapi nanti aku yang daftarin kamu langsung”

“Ih curang!”

“Biarin aja! Udah aku bilang, kamu paling bahagia waktu lagi di lapangan!”

Winata tertawa pelan, “Iya deh bawel.”

Setelahnya Winata mengambil barang-barang yang ia taruh di kursi penumpang belakang. Tepat sebelum ia keluar dari mobil Karina, Winata menoleh ke arah Karina. Ia tampak seperti memikirkan sesuatu sesaat.

Karina hampir bertanya pada Winata namun ia sudah keburu mematung saat Winata memberikan satu kecupan singkat di pipi Karina.

“Thank you Karina, you mean a lot to me.”

Winata kemudian buru-buru turun dari mobil Karina. Ia sendiri panik karena bagaimana bisa ia mencium pipi Karina seperti itu?

Selama ini hubungan mereka selalu berada di batas persahabatan walau keduanya sama-sama tahu bahwa ada hal-hal yang mereka lakukan dan melebihi batas tersebut. Namun dengan tindakan Winata seperti ini dan ucapan-ucapan yang ia berikan pada Karina selama satu bulan terakhir, Winata sudah mengakui secara gamblang bahwa dirinya menaruh perasaan lebih terhadap Karina.

Karina pun tahu akan hal ini.

Ia pun memiliki alasan mengapa dirinya melarang Winata untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan yang menjadi tugas literatur mereka.

Sang gadis berambut hitam legam yang masih terpaku di kursi pengemudi memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.

“Winata sialan. Gue bisa gila kalau gini.”

Ia mengambil ponselnya, kemudian menekan tombol speed dial nomor satu.

”H-halo, Rin?”

“You.”

”Hah?”

“Tugas literatur Win, jawabanku itu You.”

”You?”

“Yes, Love is You.”

Amoureux de... (Seungwan) part. 2-11

Joohyun sempat terlelap untuk beberapa saat ketika ia menantikan jawaban dari Yerim. Namun sang CEO kembali terjaga kala ia merasakan getaran ponsel miliknya serta bunyi notifikasi pesan singkat yang datang bertubi-tubi.

Tak ingin Seungwan turut terbangun, lantas dengan segera Joohyun mengambil gawai miliknya. Akan tetapi, belum sempat Joohyun membuka pesan tersebut, kini sebuah panggilan masuk kembali membuat ponselnya berdering.

KTY is calling

Joohyun mengernyitkan keningnya.

la cukup heran melihat nama Taeyeon terpampang di layar ponselnya.

“Halo?”

”Dimana?”

“Rumah Seungwan. Kenapa?”

”Ngapain?”

Memang sudah biasa bagi keduanya untuk berbicara secara to the point namun kali ini pertanyaan Taeyeon justru membuat emosi Joohyun bergejolak.

“Lo nggak butuh tau, kak.”

”Butuh. Sebagai kakak lo dan sebagai temannya Seungwan, gue butuh tau.”

Hening terdengar di antara keduanya. Namun samar-samar Taeyeon dapat mendengar suara bergerisik dari sisi Joohyun dan ia menunggu dengan sabar sampai Joohyun akhirnya kembali bersuara.

“Buat apa?” tanya Joohyun yang kini sudah berjalan keluar dari kamar Seungwan dan menyusuri lorong rumah mewah tersebut, mencari ruangan kosong yang bisa ia gunakan sementara.

”Hidupin video callnya. Gue mau liat muka lo.”

“Nggak.”

”Hhhh, ngambek. Okay, deh gapapa sambil telponan kayak gini aja. Well, gak usah marah ke adek lo. Yerim nggak salah.”

Lagi-lagi Joohyun mengernyitkan keningnya.

”Gue nggak belain Yerim tapi gue mau bertanggung jawab atas keputusan gue. Lo nggak butuh tau detailnya, karena itu hak Seungwan buat cerita sama lo, tapi intinya waktu itu Yerim mau ngehubungin lo tapi gue larang. Alasan gue simple, lo dan Seungwan sama-sama lagi nggak stabil dan terbukti, Seungwan juga nggak mau ngabarin lo, kan?”

“What the fuck? Apa yang kalian tutupin dari gue?!” desis Joohyun.

”Nggak ada, gue nggak nutupin apapun. Gue cuma ngelakuin apa yang Seungwan mau.”

“Kak! Gue gak tau apa yang kejadian sama Seungwan but I bet it was something horrible, maybe like tonight. Kenapa kalian gak ada yang kasih tau gue?! Gue berhak tau kak!”

”Lo berhak tau, mungkin iya. Tapi yang paling punya hak untuk cerita itu semua adalah Seungwan dan dia nggak mau lo tau ini dulu untuk sekarang. Respect her decision, Joohyun.”

Rahang Joohyun mengeras saat ia mendengar kalimat Taeyeon barusan.

”Tanya lagi ke diri lo sendiri, apa alasan lo mau tau? Bener-bener untuk Seungwan atau cuma buat pemuas hati lo? Ini semua berat buat lo tapi lebih berat lagi untuk Seungwan, jadi please ikutin kemauan Seungwan, ya? Kalau dia mau berhenti, then you have to stop. Kalau dia mau jalan, walaupun pelan, yaudah ikutin aja. Tugas kita adalah support Seungwan bukan jadi orang yang nentuin keputusan buat Seungwan. Her dad already did it dan pastinya lo tau apa akibatnya.”

“Tapi kak-...”

”Gausah keras kepala. Lo nyebelin kalo keras kepala. Denger gue dulu dan lo pikirin kata-kata gue, okay? Kalo gue salah, then I will ask for your and Seungwan's forgiveness. Tapi gue tau gue bener. Jadi intinya, lo dengerin gue. Inget ya Joohyun, Seungwan is her own person before she is your fianceé. Dah ah, gue udah sampe salon nih. Bye Joohyun.”

Sambungan telepon tersebut terputus begitu saja tanpa Joohyun sempat mengutarakan balasan pada Taeyeon.

Joohyun menghela napasnya panjang.

Dengerin gue.

Mungkin kalimat Taeyeon tersebut sangat singkat namun cukup mengena di hati Joohyun. Ia pun teringat pelajaran yang diberikan oleh Minjeong padanya. Maka kali ini, walau dengan hati yang masih gusar, Joohyun memilih untuk mengikuti nasihat kakak sepupunya itu.

Dimasukkannya ponsel yang ia genggam ke saku celana yang ia kenakan, kemudian Joohyun memilih untuk kembali ke kamar Seungwan. Sekembalinya disana, Joohyun terkejut mendapati Seungwan yang tengah menangis dalam keadaan meringkuk di atas kasur.

Buru-buru ia menyambangi Seungwan dan duduk perlahan di pinggir sisi kasur yang ditempati Seungwan.

“Seungwan, kamu kenapa? Kamu kesakitan?” tanya Joohyun dengan tangan yang perlahan menyentuh bahu Seungwan.

Mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengar, Seungwan mengintip sekilas dan terkejut akan kehadiran Joohyun di kamarnya.

“H-hyun…?”

“Iya, ini saya, Joohyun. Kamu kenapa nangis?”

Seungwan menggeleng pelan namun airmatanya tetap mengalir bahkan menjadi lebih deras.

Hal ini sontak membuat Joohyun panik. Ia takut bahwa kehadirannya-lah yang membuat Seungwan demikian.

“K-kamu mau saya keluar aja?”

Tidak ada jawaban dari Seungwan. Namun raut wajah Seungwan sudah cukup membuat Joohyun menelan ludahnya. Mungkin memang kehadirannya masih belum diharapkan.

Joohyun tersenyum singkat dan membelai kepala Seungwan dengan hangat. “Saya keluar aja ya kalau kehadiran saya disini bikin kamu kayak gini.”

Tepat kala Joohyun bangkit dari posisinya, Seungwan dengan cepat menggapai kain celana yang dikenakan oleh Joohyun.

“J-jangan…”

Joohyun harus menahan senyuman mengembang di wajahnya. Secercah rasa senang dan bahagia menyelimuti hati Joohyun mengetahui fakta bahwa Seungwan menginginkan kehadirannya disana.

“Okay, saya stay disini ya?”

Sebuah anggukan pelan diberikan oleh Seungwan yang kemudian bergeser sedikit dan menepuk sisi kasur yang kosong.

“Sini.”

Kali ini tawa pelan tidak mampu ditahan oleh Joohyun, ia merindukan Seungwan yang manja seperti ini.

“Kayak gini ya?” tanya Joohyun merujuk pada posisinya yang saat ini berbaring miring menghadap Seungwan.

Pagi itu nampaknya Seungwan masih belum mau banyak berujar, ia kembali tidak menjawab pertanyaan Joohyun dengan kata-kata namun ia hanya menunjukkannya lewat tindakannya yang saat ini sedang bergeser agar dirinya lebih dekat dengan Joohyun.

“Maaf” bisik Seungwan pelan, sedikit teredam karena posisinya yang menyembunyikan wajahnya di bahu Joohyun.

Maaf? Untuk apa? Karena tidak membalas pesannya selama berbulan-bulan? Maaf karena menyembunyikan peristiwa-peristiwa penting? Maaf karena apa?

Walau dalam benak Joohyun terdapat banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi ia ingat ucapan Taeyeon tadi. Maka dengan berat hati, akhirnya Joohyun mengurungkan niatnya untuk bertanya banyak.

“Kenapa?”

“Karena bikin kamu susah.”

Joohyun tertawa kecil mendengar jawaban singkat dari Seungwan.

“Saya nggak ketemu kamu udah berapa bulan sih? Kenapa sekarang kamu jadi nggemesin banget.”

Terdapat erangan protes dari Seungwan yang membuat Joohyun kembali tertawa.

“Saya nggak susah kok. Well, mungkin iya, tapi cuma sedikit. Kalah sama rasa kangen saya buat ketemu kamu.”

“Maaf.”

“Hey, kenapa minta maaf? Saya juga salah.”

Seungwan menengadahkan kepalanya, menatap Joohyun dengan lekat.

“Kamu Dora’s Boss?”

Kali ini tawa yang keluar dari mulut Joohyun terdengar sangat kencang dan lepas. Ia tidak menyangka bahwa pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Seungwan adalah pertanyaan itu.

“Hyuun!”

“Iya, iya. Akun itu punya saya. Minjeong yang bantu bikin.”

Seungwan mengangguk pelan.

Keduanya kembali menikmati keheningan yang tercipta. Joohyun yang menikmati kehangatan yang diberikan oleh Seungwan dan jika ia boleh pamer, posisi cuddling dengan Seungwan seperti ini merupakan salah satu favoritnya. Sedangkan Seungwan menikmati aroma tubuh Joohyun yang sudah lama tidak menyapa inderanya. Walau ia sering berbuat curang dengan memakai baju milik Joohyun, tetap saja aroma tubuh Joohyun seperti ini adalah favoritnya.

Namun Seungwan kini tersadar, dengan dirinya yang bertindak seperti ini apakah akan memberikan harapan palsu bagi Joohyun? Sejujurnya ia belum sepenuhnya siap untuk bertemu Joohyun.

Ia belum sepenuhnya menyelesaikan masalah-masalahnya. Ia tidak mau membebani Joohyun dengan itu semua.

“Joohyun…”

“Ya?”

“Nggak jadi.”

“Kenapa nggak jadi? Kamu nggak enak sama saya atau tiba-tiba lupa sama yang mau diomongin? Kalau karena nggak enak sama saya, serius saya lebih baik dengar langsung dari kamu daripada dari orang lain.”

Seungwan menghela napasnya panjang.

“Aku takut.”

“Sama?”

“Sama aku. Sama ekspektasi orang-orang. Aku takut ngecewain kalian. Aku takut ngecewain kamu.”

Setelahnya Seungwan dapat merasakan Joohyun mengeratkan pelukannya.

“Kamu nggak perlu mikirin siapapun selain diri kamu sendiri, ya?”

“Tapi aku nggak mau egois. Kalian udah terlalu sabar sama aku.”

“Sekali ini aja, kamu egois lagi nggak apa-apa Seungwan.”

“Tapi kalau aku egois lagi, artinya aku bakal minta kita untuk balik kayak kemarin.”

Elusan Joohyun di punggung Seungwan sempat terhenti sejenak dan reaksi ini membuat Seungwan lagi-lagi menengadahkan kepalanya. Namun berbeda dengan ekspektasinya, ia justru mendapati Joohyun tersenyum ke arahnya.

“Kalau kamu butuh waktu lebih banyak lagi, akan tetap saya kasih. Walaupun mungkin saya akan sedikit sedih. Cuma sedikit aja kok, segini.” ujar Joohyun yang menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya, memberikan sebuah gambaran seberapa sedih dirinya nanti.

“Aku nggak mau kamu sedih.”

“Saya juga nggak mau kamu sedih, Seungwan. Saya nggak mau kamu terbebani dengan apapun itu. Yang penting saya tau kamu baik-baik aja dan itu udah cukup. Saya juga bisa lihat kamu setiap hari kan? Lewat radio.”

Tetes demi tetes airmata kembali membasahi pipi Seungwan kala ia mendengarkan jawaban dari Joohyun.

“Maafin aku, Joohyun.”

“Hey, hey it’s okay. We will do this at your pace, okay? One day when you are ready, kita bisa jalan berdampingan lagi.”

Amoureux de... (Seungwan) part. 2-9

TW : childhood trauma

Joohyun bersumpah ia tidak pernah berkendara secepat saat ini. Entah sudah berapa banyak lampu merah ia terobos untuk mempersingkat waktu tempuh dari apartemen Seungwan menuju kediaman Nyonya Do.

Ia tidak peduli jika besok pagi plat nomor mobilnya masuk di jajaran berita pagi hari karena pelanggaran lalu lintas. Ia juga tidak peduli berapa nominal denda yang harus ia bayar esok pagi.

Saat ini pikirannya hanya satu, tiba di rumah Nyonya Do secepat mungkin.

2 jam sudah berlalu sejak Seungwan meninggalkan pesan untuknya.

1 jam sejak miss call terakhir dari Nyonya Do.

Sekitar 20 menit sejak ia membuka ponselnya.

Sudah puluhan, mungkin ratusan, sumpah serapah ia layangkan untuk dirinya sendiri.

Bagaimana bisa ia terlelap sepulas itu disaat Seungwan sedang kesakitan?

Bagaimana bisa ia tidak mendengar notifikasi ponselnya? Tidak hanya pesan singkat bahkan Nyonya Do sempat menelponnya. Padahal ia bisa dengan sigap membalas pesan, telepon, bahkan email dari rekan bisnisnya.

Pikirannya sangat kalang kabut. Joohyun rasanya ingin menangisi kebodohannya malam itu.

Ia merasa sedikit sesak napas saat mulai melihat plang jalan menuju kawasan elit tempat rumah Nyonya Do berada. Ditekannya lampu dim mobilnya berkali-kali dengan sangat cepat agar petugas keamanan yang menjaga gerbang rumah Nyonya Do menyadari keberadaannya.

Namun nampaknya malam itu kesabaran Joohyun sedang diuji. Ia harus menunggu cukup lama sebelum gerbang megah tersebut dibuka. Rasanya ia sangat ingin memaki petugas keamanan tersebut tetapi Joohyun tahu waktunya sangat berharga.

Joohyun segera mengarahkan mobilnya menuju pintu utama rumah megah tersebut. Mobilnya ia biarkan terparkir secara asal, bahkan ia tidak sempat memikirkan untuk mengunci pintu mobilnya.

Ia berjalan sedikit berlari menuju pintu utama dan langsung mendorong pintu tersebut, yang untungnya memang tidak dikunci.

Joohyun mendapati rumah tersebut sangat sepi, tentu saja karena saat itu pukul setengah tiga pagi. Dengan sedikit frustasi, ia segera berjalan ke arah dapur tempat dimana ia tahu pasti akan menemukan paling tidak satu orang asisten rumah tangga keluarga Do.

“Mama mana bi?” tanya Joohyun tersengal-sengal saat melihat satu perempuan paruh baya yang tengah membelakangi dirinya, tebakan Joohyun tengah menyeduh teh dari aroma yang ia hirup.

Asisten rumah tangga tersebut terkejut dengan kehadiran orang asing, namun ia sedikit mengingat sosok Joohyun. Ia rasa ia sempat melihat wajah nona ini dari potret yang ada di kamar Seungwan serta jika ia tidak salah ingat, nona ini juga sempat bermalam disini beberapa kali bersama dengan anak dari majikannya itu.

“Di kamar Nona Seungwan.”

Secepat kilat Joohyun berlari meninggalkan dapur tersebut, menuju kamar Seungwan.

Tepat pada saat ia membuka pintu kamar Seungwan, mata Joohyun beradu tatap dengan manik milik Nyonya Do yang tengah duduk di tepi kasur yang ditempati oleh Seungwan.

Namun bagaikan magnet, fokus penglihatan Joohyun hanya berada di satu titik, yakni Seungwan yang terlihat terbaring tak sadarkan diri.

Secara reflek Nyonya Do bangkit dan menghentikan Joohyun untuk berjalan mendekat. Ia membawa Joohyun keluar dari kamar tersebut untuk berbicara empat mata sebelum membiarkan Joohyun untuk menemani putrinya.

“M-ma…S-seungwan ke..kenapa?”

Nyonya Do memeluk Joohyun dengan sangat erat.

“Terima kasih sudah datang ya, Joohyun.” bisik Nyonya Do tepat di telinga Joohyun sembari mengusap punggung Joohyun perlahan.

“M-maaf Joohyun baru datang sekarang. T-tadi Joohyun-...”

“H-hush.. udah nggak usah minta maaf. Kamu nggak salah, nggak ada yang salah.” potong Nyonya Do cepat-cepat.

“Mama mau tanya dulu satu hal sama kamu dan tolong dijawab dengan jujur ya?” tambah Nyonya Do yang dibalas dengan anggukan.

“Kamu dan Seungwan lagi ada masalah? Mama bener-bener bingung kenapa Seungwan bisa collapse lagi dan Mama tahu cuma ada dua hal yang bisa bikin Seungwan kayak sekarang.”

Joohyun menggigit bibirnya dengan kencang sembari menganggukkan kepalanya lemah.

“K-kami sempat bertengkar hebat beberapa bulan yang lalu. Kemudian Desember kemarin S-Seungwan minta untuk break sejenak dan saya penuhi permintaan itu. Akhir tahun kemarin saya kira hubungan kami sudah sedikit membaik walaupun memang kami tidak banyak kontak.”

Nyonya Do mengerutkan keningnya, “Tapi terakhir kali kalian komunikasi, apa Seungwan terlihat dalam keadaan buruk?”

Joohyun menggeleng, “Tapi akhir-akhir ini kalau saya lihat memang Seungwan terlihat tidak baik. Masalahnya, Joohyun nggak tau apa permasalahan yang sedang Seungwan hadapi.”

“Aneh juga kalau begitu. Mama kira kalian memang bertengkar akhir-akhir ini, karena Seungwan selalu menghindar saat mama ajak bicara tentang kamu. Tapi kalau kamu bilang sudah lama tidak benar-benar berkomunikasi dengan Seungwan, tandanya bukan pertengkaran kalian yang membuat Seungwan seperti ini.” ujar Nyonya Do sambil menepuk pundak Joohyun pelan.

“Seungwan tadi pingsan. Sejujurnya mama sangat terkejut karena mama sama sekali nggak nyangka kalau Seungwan sangat terguncang. Tapi kamu tenang aja, untuk kondisi fisiknya dia baik-baik aja karena tadi sudah diperiksa sama dokter keluarga. Cuma seperti yang kamu tau, keadaan mental Seungwan masih sangat labil untuk sekarang. Tadi mama juga sudah cek isi kamar dia dan untungnya mama nggak nemuin obat penenang atau yang sejenis, tadi mama udah sempat khawatir kalau Seungwan ketergantungan sama obat-obatan itu.”

“I-iya ma, Yerim sempet cerita kalau sekarang Seungwan juga udah mulai lepas dari obat. D-dia juga sekarang udah lebih sering terapi ke psikolog.”

Nyonya Do mengangguk, “Tolong tanyakan ke adik kamu, barangkali dia punya info lebih. Mama nggak tau ada apa sama kamu dan Seungwan, tapi mama berharap kalian bisa lewatin ini semua ya. Kalau ada satu orang yang mama yakin bisa jaga Seungwan dengan baik, itu kamu Joohyun.”

“M-maafin Joohyun ma…”

“Kamu nggak perlu minta maaf, Joohyun. Ini bukan salah siapapun okay? Termasuk Seungwan sekalipun, dia nggak perlu minta maaf. Mungkin memang keputusan dia banyak yang nggak masuk akal buat kita, tapi itu semua pasti karena Seungwan punya pertimbangan dan kekhawatiran dia sendiri. Kenapa tadi mama telpon kamu, bukan untuk buat kamu merasa bersalah, tapi sebagai sosok yang penting bagi Seungwan kamu berhak untuk tau ini.”

Joohyun kembali mengangguk lemah, “M-malam ini boleh Joohyun tinggal disini? Seenggaknya supaya ada yang nemenin Seungwan sampai pagi nanti.”

“Boleh, pasti boleh. Kamu juga jangan lupa istirahat ya? Mama balik ke kamar mama dulu, kalau kamu butuh apa-apa langsung kesana aja.”

Nyonya Do memeluk Joohyun satu kali lagi sebelum ia kemudian meninggalkan Joohyun yang masih terpaku di depan pintu kamar Seungwan.

Sementara itu, Joohyun menarik napasnya panjang sebelum ia melangkah memasuki kamar Seungwan.

Setibanya di sebelah kasur berukuran queen sized tersebut, Joohyun mendudukan dirinya perlahan. Tangannya terjulur, secara perlahan mengusap kepala Seungwan.

“Istirahat ya, kamu nggak usah takut lagi. Saya bakal nemenin kamu sampai kamu minta saya untuk pergi.”

Joohyun bangkit dari posisinya untuk mengecup singkat kening Seungwan. Ia kemudian berjalan ke arah deretan lemari pakaian dan tersenyum saat ia melihat beberapa sweater, kemeja, bahkan blazer miliknya ada disana.

“Kamu curang, kamu ambil baju saya tapi nggak izin dulu. Tau gitu saya juga culik baju kamu, Seungwan.”

Tangan Joohyun kemudian mengambil satu set piyama dan setelahnya ia segera menuju kamar mandi untuk berganti baju.

Joohyun menempati sisi kasur yang kosong, dengan tetap memberikan jarak antara dirinya dan Seungwan. Ia tahu, walaupun malam ini ia mendapatkan izin untuk menginap namun izin itu bukan datang dari Seungwan. Untuk itu Joohyun tetap berusaha menjaga jaraknya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Joohyun untuk turut terlelap bersama dengan Seungwan. Namun tidurnya itu hanya bertahan kurang dari satu jam karena ia mendengar rintihan suara anak kecil yang menangis ketakutan.

Awalnya Joohyun sempat bingung, tetapi ia kemudian menyadari bahwa suara tersebut datang dari Seungwan. Joohyun tiba-tiba teringat akan penjelasan Ojé beberapa bulan lalu bahwa terdapat kemungkinan saat trauma masa kecil Seungwan sedang menghantui dirinya, maka tanpa sadar Seungwan akan bertingkah layaknya anak kecil dan malam itu ucapan Ojé menjadi kenyataan saat Seungwan mengeluarkan suara-suara anak kecil.

Buru-buru Joohyun bangkit dari posisi tidurnya, kemudian mengguncang tubuh Seungwan pelan. “Seungwan, sayang bangun. Itu mimpi, itu mimpi. Itu nggak nyata, sayang.”

”t-takut….mama….”

“Nggak usah takut, sayang. Bangun ya. Ayo bangun sekarang ya, Itu cuma mimpi buruk, okay?”

Joohyun kembali berusaha mengguncang tubuh Seungwan pelan.

Ia bernapas sedikit lega saat mendapati Seungwan perlahan membuka kedua bola matanya.

“J-joohyun?”

“Iya, ini Joohyun.”

“A-aku tadi lihat kam-..”

“Itu mimpi sayang, itu nggak bener. Lupain aja ya. Itu nggak nyata. Yang nyata itu sekarang saya yang ada disini sama kamu.” ujar Joohyun sembari tersenyum ke arah Seungwan dengan tangan kirinya mengusap kepala Seungwan perlahan.

“Tidur lagi ya?” bujuk Joohyun yang langsung dibalas dengan gelengan kepala.

“Sama Saya kok. Kamu nggak perlu takut ya? Kalau mimpi buruk itu datang, saya ada disini buat bantu kamu okay? Kita tidur pelan-pelan ya? Kamu butuh istirahat.”

“Aku nggak mau lihat mimpi itu lagi….”

“Nggak, kamu nggak akan lihat itu lagi. Kita sama-sama bayangin waktu kita senang-senang aja ya? Kita ingat-ingat lagi momen-momen menyenangkan. Kamu mau tidur sambil saya peluk?”

Seungwan mengangguk, kemudian mendekatkan dirinya pada Joohyun.

“Jangan tinggalin aku sendirian….”

Joohyun mengangguk, kemudian mengeratkan pelukannya. “Tidur, saya disini sama kamu.”

Seungwan masih meracau beberapa kali sebelum akhirnya ia kembali terlelap.

Namun satu kata terakhir dari Seungwan membuat Joohyun yang hampir terlelap, tiba-tiba kembali bangun.

”Joohyun jangan marah…Yerim Ojé baik….papa jahat….”